MERAYAKAN KEMAJEMUKAN BERAGAMA

MERAYAKAN KEMAJEMUKAN BERAGAMA

Oleh : Yobta Tarigan

Salah satu kenangan yang kami ingat dan masih membekas sampai saat ini adalah pada saat masih anak-anak adalah kiriman kue/panganan dari tetangga pada saat mereka (baca:umat muslim) merayakan hari Raya Idul Fitri.Bagi saya yang pada saat itu masih anak-anak, menunggu di pagi hari setelah tetangga-tetangga (baca;om,tante,abang,kakak) saya menjalankan sembahyang Ied untuk menerima panganan lebaran adalah hal yang paling menyenangkan dan mengembirakan.Begitu pula jika berkunjung ke rumah-rumah mereka pada hari Raya,karena di sana ada rupa-rupa makanan dan terkadang pada saat pulang di titipin uang.Indah nya persaudaraan pada masa itu.Bersama dengan teman-teman menghidupkan petasan,bahkan takbiran dengan obor keliling komplek dimana kami bertempat tinggal.

Di belahan dunia lain seperti Amerika dan Eropa masalah kemajemukan ber agama (baca:keyakinan) bukanlah menjadi persoalan yang sangat krusial.Karena sedari dulu nya masyarakat Amerika dan Eropa hidup dalam ke homogenan keyakinan (baca;Kristen).Kalaupun dapat di katakanan ada perbedaan,adalah dengan Kristen katolik dan agama Yahudi,yang notabene lebih banyak persamaannya di banding perbedaannya.Hanya dalam beberapa dasawarsa ini lah,hal ini menjadi perhatian pemerintah di sana.Bagi kita yang tinggal di Indonesia hal kemajemukan adalah hal yang sebenarnya tidaklah menjadi persoalan lagi di karenakan sedari dulu bangsa kita telah hidup berdampingan dengan berbagai macam keyakinan.Dan setelah kemerdekaan telah adalah Konsensus Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika yang mengayomi hal tersebut.Tetapi mengapa hal-hal tersebut tetap menjadi benturan-benturan yang sangat kontras di masyarakat kita.?Bahkan terkadang sangat keras.Yang katanya beragama dan berkeyakinan kepada Tuhan.?Dimana dan bagaiman kita orang Kristen dapat menyikapi itu semua.?Sehingga kita dapat "Merayakan Kemajemukan"sebagai berkat dan anugrah dari yang Ilahi itu.Tulisan ini di buat, bukan untuk dapat menjawab sekian banyak pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ada di benak pembaca,tetapi hanya sebuah refleksi/kontemplasi masa kecil seorang anak manusia yang pernah merasakan "Merayakan Kemajemukan Beragama/Keyakinan"itu.

Memahami Kemajemukan Agama

Beragama secara sederhana dapat diartikan sebagai hidup dengan keteraturan sedangkan berkeyakinan dapat di pahami sebagai suatu proses pemahaman integral dan holistic akan sesuatu yang di yakini oleh sebuah pengajaran dan pemahaman akan dunia kekinian dan keakaan (baca:sorga).Di sana lah semua manusia hidup dan menggeluti penghidupan nya.Tidak dapat pula di pungkiri kita hidup dengan berlain-lainan agama dan keyakinan.Suka tidak suka,senang tidak senang,terima atau tidak terima kita kita hidup dengan berbagai macam perbedaan satu dengan yang lainnya (agama,ras,bahasa,kulit,bangsa,etnik).Dapat kita pula lihat di Perjanjian Lama, Allah dengan sengaja membuat keragaman (baca:kemajemukan) itu (Kejadian….)..Allah menciptakan kehidupan dalam kemajemukan sebagai karakteristiknya.Karena itu,penyeragaman hidup tidak lain adalah sebuah upaya menyangkal kemajemukan.Dengan kata lain,menyangkal hidup itu sendiri.Mengakui keragaman tidak sama dengan memadukan berbagai unsur perbedaan (Sinkretisme).Mengakui keragaman juga tidak sama dengan menganggap semua perbedaan tak ada artinya atau semua serba relative (Relativisme).Pluralisme/Kemajemukan/Keragaman bukan sinkretisme dan juga bukan relativisme.Tetapi,ragam kebenaran diakui.Kebenaran-kebenaran universal di temukan dalam kemajemukan.Bukan absolute dalam ketunggalan,tetapi absolute dalam kemajemukan.

Hambatan Merayakan Kemajemukan Agama

Kita hidup dalam era di mana keragaman semakin dihargai sebagaimana adanya.Era narasi tunggal sudah berlalu.Sebagai gantinya,era Toleransi,era Pluralisme bahkan era Multikultural.Maka,praksis pergaulan dalam keragaman menjadi sebuah tuntutan zaman.Memang ada arus primordialisme yang berupaya melawannya.Namun,praksis sehari-hari orang harus hidup bersama dalam keragaman. Dengan memahami bahwa keragaman agama adalah sebuah keniscayaan.Pertanyaan yang timbul adalah kenapa masih terasa berat dan tertatih-tatih umat beragama untuk "merayakannya" pada umumnya dan umat Kristen (baca:Ngawan GBKP) pada khususnya ..?.Ada beberapa hal yang membuat itu terjadi: pertama,penulis melihat kurang "membumi" nya pemahaman akan orang yang beragama lain adalah sebagai sesama kita manusia juga (bandingkan dengan cerita orang Samaria yang murah hati dalam ……).Bukankah terkadang kita yang mengaku Kristen menggangap orang lain (baca:beragama lain) adalah bukan saudara kita,kita mengangap sebagai orang lain, bahkan kita anggap mereka tidak akan masuk surga..!?.Kita mulai mendewakan agama,bahkan kita memutlakannya.Bukankah masalah siapa yang masuk sorga atau neraka adalah hak pregogratif Allah sendiri.Jadi hanya Allah lah yang mutlak..!! (Kisah Para Rasul 10:34-35).Yang kedua adalah pemahaman akan agama-agama yang lain.Bukankah ada pepatah mengatakan :"kalau tidak kenal maka tidak sayang".Yang terjadi adalah kita sangat "alergi" untuk mengenal agama yang lain.Bukankah dengan mengenal agama-agama yang lain kita dapat melihat dari sisi yang lain untuk dapat membangun spritulitas kita.Untuk mengenal agama-agama tersebut di butuhkan kemauan untuk belajar (baca:membaca buku).Meminjam istilah saudara-saudara kita muslim:bukankah kita adalah orang-orang yang ber "kitab".Yesus sendiri adalah pembelajar yang baik bukan..?.Dengan pemahaman yang baik dan cukup komprehensif tentang agama-agama yang lain, dapat membuka wacana dan wawasan kita sehingga tidak "katak dalam tempurung".Sejujurnya sangat lah banyak untuk dapat kita semua tuliskan apa dan bagaimana hal-hal tersebut tersendat dan tertatih-tatih,tapi tidak lah cukup dalam tulisan yang sederhana ini dapat kita perbincangkan.Dengan beberapa sebab di atas di harapkan dapat membuka mata iman kita, paling tidak berani jujur akan kelemahan dan kekurangan kita sebagai umat yang di katakanan Kristen.Demikianlah sekilas hal-hal yang menjadikan kita teramat sukar "merayakan"kemajemukan agama.Pertanyaan berikutnya,bagaimanakah kita dapat merayakannya.?

Merayakan Kemajemukan Agama

Pada refleksi/kontemplasi akan masa kecil kami,untuk merayakan kemajemukan agama itu,paling tidak ada 3 (tiga) kata yang diperlukan yaitu kejujuran, keterbukaan dan ketulusan.Kejujuran bahwa kita adalah saudara,sesama manusia,yang berdosa di hadapan yang Ilahi itu.Serta membutuhkan sama-sama rahmad pengampunan dari Nya (Bandingan Matahari dan Hujan sama di berikan kepada orang yang baik dan jahat oleh tuhan…..).Yang kedua Keterbukaan hati kita bahwa kemajemukan adalah rahmad dan karunia tersendiri yang telah Allah berikan buat kita semua.Keterbukaan untuk menerima dan memberi,keterbukaan untuk saling mengisi arti hidup itu sendiri.Terakhir adalah ketulusan,ketulusan lah yang membuat para tetangga (baca:sesama manusia) saya dengan murah hati membawa rupa-rupa panganan.Dengan ketulusanlah hal-hal itu dapat terjadi secara indah,tanpa kemunafikan,tanpa paksaan,tanpa instruksi.Ketulusan yang penuh kepolosan seperti yang di perumpamakan oleh Tuhan Kita Yesus tentang keluguan anak kecil (Band:……).Oh..ya saya lupa informasikan kalau rupa-rupa makanan yang saya terima pada saat Hari Raya Idul Fitri adalah: Opor ayam dari tante hajjah Tuti Lubis,Lontong sayur dari om Haji Rakino Hasan sekeluarga,ada Bolu dari kakak dr.Sugiani,ada Kolang-kaling Ibu Ginting (mereka semua tetangga muslim saya yang baik hati).Uhh....enak nya...sedap nya..sungguh nikmatnya.Anda mau…? SELAMAT MERAYAKAN KEMAJEMUKAN AGAMA…


Yobta Tarigan

Pemerhati Sosial Kemajemukan

Ngawan Rg. GBKP Pontianak Kalimatan Barat

Tidak ada komentar: